Minggu, 25 Oktober 2015

Kapankah aku akan membanggakan Ayah dan Ibu?

Kapankah aku akan membanggakan Ayah dan Ibu?
“Tuhan tak pernah menjanjikan bahwa langit selalu biru, air laut tak pernah surut, hujan tak pernah berhenti. Begitupun dengan kehidupan tak akan selalu berjalan mulus tanpa maslah menghadang.”
Aku salah-satu mahasiwa di universitas negeri yang jauh dari tempat tinggalku. Sebut saja namaku Aulia. Dalam langkahku, aktivitasku dan hari-hariku selalu bertanya bagaimana rasanya membahagiakan orangtua? Katakana saja saya belum pernah membahagiakan orang tua. “Oh no no”. rasanya itu seperti hidup di dunia ini mempunyai hutang balas budi. Tuhan andaikan aku bisa membahagiakan orang tua tiap detik betapa berharganya hidup ini tapi bukan berarti hidupku tak berharga ya gais… halangan dan rintangan yang ku lalui untuk membahagiakan orang tua ku. Dulu aku daftar di salah satu sekolah kedinasan yang mana di situ ada jaminan lulus langsung kerja dan itu cpns. Pada saat itu saya selalu menghayal andaikan saya di terima saya akan membuat mereka bahagia. Yang menjadi pertanyaan sekarang bahagiakah ayah dan ibuku? Tentu, harapan orang tua ingin anaknya hidup mapan dan jangan sampai hidup susah. Bagaimana tak bahagia mereka, ayah ibuku hanya guru sekolah swasta di kampung bisa di bilang masih primitive. Dan gaji yang di terima hanya 100 ribu per bulan. Jadi gaji ayah dan ibu tiap bulan hanya 200 ribu, usaha sampingan ibu berjualan martabak telor yang di titipkan di kantin sekolah tempat belau mengajar. Lumayan buat tambahan biaya anak-anaknya. sedangkan saya punya 2 adik laki-laki. Adik pertama saya kuliah di univ negeri  UKT nya masuk golongan 4. Kalau boleh saya katakana spp per semesternya 4.425.000. Dan adik ke 2 saya kelas 1 Mts unggulan tentu spp lebih mahal dari kelas regular dong…  -+ 350 rb per bulan. Bisa di bayangkan bagaimana jerih paya orang tua  untuk membiayai  anak-anaknya. Dalam bayangan saya jika lulus saya akan membantu biaya kuliah dan sekolah adik-adik saya.ternyata saya gagal dalam tes itu. Kegagalan itu bukan terjadi di tahun pertama saya daftar saja, akan tetapi di tahun ke dua dank e tiga juga. Dari kegagalan yang berlangsung selama tiga kali itu saya berfikir, tuhan belum mengizinkan aku untuk membahagiakan orang tuaku saat ini. Mungkin kelak akan di beri yang lebih tinggi dari harapan saya. Aamiin.
Akhirnya saya Move on dari kegagalan itu, saya lebih fokuskan ke kuliah saya yang di universitas negeri. Hari-hari saya belajar dan belajar karena ingat pesan orang tua ku. Perkataan itu melekat keras dalam ingatan. Waktu itu pas saya dan adik-adik lagi di depan televise. Ayah berkata “ anak-anakku  belajarlah yang giat jika kalian belajar dengan sungguh-sungguh ayah dan ibu semakin semangat dalam mencari rizki” pada saat itu juga air mata terjatuh dengan sendirinya. Dari itu jika saya tak belajar saya merasa brdosa. Entah karena saya sudah di beri kepercayaan sama orang tua untuk belajar atau karena saya beranggapan memakan keringat orang tua saya. Tidak tau sebabnya. Yang jelas belajar itu sebagai prinsip membahagiakan orang tua saya. Demi meringankan beban orang tua saya selain kuliah saya bekerja sebagai buruh di laundry kadang-kadang juga jualan gorengan keliling kampus. Yah itung-itung ngurangin beban orangtua saya. Saya sisihkan uang dari hasil kerja saya untuk membantu biaya sekolah adik saya yang duduk di bangku Mts itu. Dengan memandang bulan dan bintang di langit pada malam hari saya kadang berfikir “susah juga membuat mereka bahagia” ya Allah berilah jalan untuk selalu mengukir senyum di wajahnya. 1 th kemudian saya lulus kuliah dengan kategori kumlurd. Ya allah bahagianya kedua orangtua saya ketika saya di panggil sebagai wisuda terbaik dan wisuda termudah se universitas. Butiran air mata dan ucapan syukur yang tiada henti dari saya dan keluarga saya. Akhirnya saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri ni oxford university. Senyum mereka adalah impian saya dari dulu. Dan saya di sana sebagai penulis aktif di salah satu Koran ternama di Amerika serikat. Jadi sedikit banyak saya bisa mengirimkan uang buat biaya adik-adik saya dan kehidupan orang tua saya.

Pesan penulis
“tetap lah bersyukur apapun akan nikmat yang di berikan oleh Tuhan”
“begitulah kehidupan kadang di bawah kadang di atas, hokum alam ini ada siang ada malam”
“selalu ukir senyum di wajah orang tua”

Apapun profesi orang tua mu, kamu berhak merebut kesuksesan”