Kapankah aku akan membanggakan Ayah dan Ibu?
“Tuhan tak pernah
menjanjikan bahwa langit selalu biru, air laut tak pernah surut, hujan tak
pernah berhenti. Begitupun dengan kehidupan tak akan selalu berjalan mulus
tanpa maslah menghadang.”
Aku salah-satu mahasiwa di universitas negeri yang
jauh dari tempat tinggalku. Sebut saja namaku Aulia. Dalam langkahku, aktivitasku
dan hari-hariku selalu bertanya bagaimana rasanya membahagiakan orangtua?
Katakana saja saya belum pernah membahagiakan orang tua. “Oh no no”. rasanya itu
seperti hidup di dunia ini mempunyai hutang balas budi. Tuhan andaikan aku bisa
membahagiakan orang tua tiap detik betapa berharganya hidup ini tapi bukan
berarti hidupku tak berharga ya gais… halangan dan rintangan yang ku lalui
untuk membahagiakan orang tua ku. Dulu aku daftar di salah satu sekolah
kedinasan yang mana di situ ada jaminan lulus langsung kerja dan itu cpns. Pada
saat itu saya selalu menghayal andaikan saya di terima saya akan membuat mereka
bahagia. Yang menjadi pertanyaan sekarang bahagiakah ayah dan ibuku? Tentu,
harapan orang tua ingin anaknya hidup mapan dan jangan sampai hidup susah.
Bagaimana tak bahagia mereka, ayah ibuku hanya guru sekolah swasta di kampung
bisa di bilang masih primitive. Dan gaji yang di terima hanya 100 ribu per
bulan. Jadi gaji ayah dan ibu tiap bulan hanya 200 ribu, usaha sampingan ibu
berjualan martabak telor yang di titipkan di kantin sekolah tempat belau
mengajar. Lumayan buat tambahan biaya anak-anaknya. sedangkan saya punya 2 adik
laki-laki. Adik pertama saya kuliah di univ negeri UKT nya masuk golongan 4. Kalau boleh saya
katakana spp per semesternya 4.425.000. Dan adik ke 2 saya kelas 1 Mts unggulan
tentu spp lebih mahal dari kelas regular dong…
-+ 350 rb per bulan. Bisa di bayangkan bagaimana jerih paya orang
tua untuk membiayai anak-anaknya. Dalam bayangan saya jika lulus
saya akan membantu biaya kuliah dan sekolah adik-adik saya.ternyata saya gagal
dalam tes itu. Kegagalan itu bukan terjadi di tahun pertama saya daftar saja,
akan tetapi di tahun ke dua dank e tiga juga. Dari kegagalan yang berlangsung
selama tiga kali itu saya berfikir, tuhan belum mengizinkan aku untuk
membahagiakan orang tuaku saat ini. Mungkin kelak akan di beri yang lebih
tinggi dari harapan saya. Aamiin.
Akhirnya saya Move on dari kegagalan itu, saya lebih
fokuskan ke kuliah saya yang di universitas negeri. Hari-hari saya belajar dan
belajar karena ingat pesan orang tua ku. Perkataan itu melekat keras dalam
ingatan. Waktu itu pas saya dan adik-adik lagi di depan televise. Ayah berkata
“ anak-anakku belajarlah yang giat jika
kalian belajar dengan sungguh-sungguh ayah dan ibu semakin semangat dalam
mencari rizki” pada saat itu juga air mata terjatuh dengan sendirinya. Dari itu
jika saya tak belajar saya merasa brdosa. Entah karena saya sudah di beri
kepercayaan sama orang tua untuk belajar atau karena saya beranggapan memakan
keringat orang tua saya. Tidak tau sebabnya. Yang jelas belajar itu sebagai
prinsip membahagiakan orang tua saya. Demi meringankan beban orang tua saya
selain kuliah saya bekerja sebagai buruh di laundry kadang-kadang juga jualan
gorengan keliling kampus. Yah itung-itung ngurangin beban orangtua saya. Saya
sisihkan uang dari hasil kerja saya untuk membantu biaya sekolah adik saya yang
duduk di bangku Mts itu. Dengan memandang bulan dan bintang di langit pada
malam hari saya kadang berfikir “susah juga membuat mereka bahagia” ya Allah
berilah jalan untuk selalu mengukir senyum di wajahnya. 1 th kemudian saya
lulus kuliah dengan kategori kumlurd. Ya allah bahagianya kedua orangtua saya
ketika saya di panggil sebagai wisuda terbaik dan wisuda termudah se
universitas. Butiran air mata dan ucapan syukur yang tiada henti dari saya dan
keluarga saya. Akhirnya saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri ni oxford
university. Senyum mereka adalah impian saya dari dulu. Dan saya di sana
sebagai penulis aktif di salah satu Koran ternama di Amerika serikat. Jadi
sedikit banyak saya bisa mengirimkan uang buat biaya adik-adik saya dan
kehidupan orang tua saya.
Pesan penulis
“tetap lah bersyukur apapun akan nikmat yang di
berikan oleh Tuhan”
“begitulah kehidupan kadang di bawah kadang di atas,
hokum alam ini ada siang ada malam”
“selalu ukir senyum di wajah orang tua”
Apapun profesi orang tua mu, kamu berhak merebut
kesuksesan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar