“FILSAFAT
ILMU”
Makalah
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu tugas pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Dosen pembimbing:
Edwin Syarif. Dr.M.Ag.
Oleh:
Aulia Adibah (1113032100031)
Windi Wulandari (1113032100042)

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
PENDAHULUAN
Filsafat merupakan cabang
ilmu yang sangat penting. Karena ilmu berkembang tidak lepas dari filsafat.
Salah satu cabang filsafat adalah filsafat ilmu yang mana filsafat ilmu
bertujuan agar bias menganalisis ilmu dan bagaimana pengetahuan ilmiah itu di
peroleh.dalam makalah ini akan kami paparkan apa pengertian filsafat ilmu?
Objek kajian filsafat ilmu dan metode apa yang dapat di lakukan dalam
menganalisis ilmu
a.
Pengertian
filsafat ilmu.
Pengertian filsafat ilmu menurut para ahli[1]:
a.
Michael
V. Berry
Filsafat ilmu
adalah ilmu yang mempelajari
tentang logika intern, teori-teori ilmiah dan hubungan antara percobaan.
Yang bertujuan untuk menghasilkan suatu metode atau teori ilmiah.
b.
May
Brodbeck
Filsafat ilmu adalah suatu analisis murni yang sesuai
dengan falsafi, menjelasan mengenai landasan-landasan ilmu. Dengan cara
menganalisis, menggali, mengkaji dan mendeskripsikanya. Sehingga ilmu itu dapat
di manfaatkan secara benar.
c.
Lewis
White Beck
Filsafat ilmu adalah ilmu yang mempertanyakan dan menilai metod-metode
pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah
sebagai suatu keseluruhan sehingga mampu memahami dan menetapkan akan arti
pentingnya uaha ilmiah serta pengkajian ilmu pengetahuan.
d.
Jujun
S Suriasumantri[2]
Filsafat ilmu adalah suatu pengetahuan atau epistemology yang mencoba
menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut bukan lagi merupakan
sebuah misteri. Pengetahuan tersebut dibagi menjadi 3 golongan:
1.
Pengetahuan
tentang etika yaitu suatu hal yang baik atau buruk
2.
Pengetahuan
estetika atau seni tentang suatu keindahan dan jelek
3.
Pengetahuan
logika mengenai suatu hal yang benar atau yang salah
e.
Beerling
Filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan
ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut.
Jadi, dapat disimpulkan menurut pemaparan diatas,
filsafat ilmu adalah filsafat yang mengkaji seluk beluk dan tata cara untuk
memperoleh suatu pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan,metode dan pendekatan
yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan logis dan rasional.[3]
Fungsi filsafat ilmu[4]
1.
Sebagai
alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
2.
Mempertahankan,
menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainya,
3.
Memberikan
pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
4.
Memberikan
ajaran tentang moral dan etika
5.
Menjadi
sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan.
b.
Objek
filsafat ilmu
Menurut Jujun S. Suriasumantri (1986) filsafat ilmu
memiliki tiga objek yaitu: ontology,epistemology dan aksiologi.
Filsafat ilmu juga memiliki objek material dan objek
formal[5]
1.
Objek
material filsafat ilmu
Objek material yaitu objek yang menjadi sasaran penyelidikan oleh suatu
ilmu tersebut.
Objek materil adalah ilmu pengetahuan itu sendiri yaitu, pengetahuan
yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga
dapat di pertanggungjawabkan kebenaranya secara umum.
Sedangkan menurut Arif Rohman, Rukiyati dan L. Andriani (2011 :
22) objek material suatu bahan yang berupa benda, barang, keadaan atau hal yang
dikaji.
2. Objek formal
Objek formal dalam filsafat ilmu ini menitik beratkan pada fakta
dan kebenaran yang mana kebenaran itu sudah di telaah objek materialnya.objek
formal dalam filsafat ilmu adalah hakikat (esensi)ilmu pengetahuan artinya
filsafat ilmu lebih menaruh perhatian pada problem mendasar ilmu pengetahuan,
seperti apa hakikat ilmu itu sesungguhnya?, bagaimana cara memperoleh kebenaran
ilmu?apa fungsi ilmu pengetahuan bagi manusia?problem inilah yang di bicarakan
dalam landasan pengembangan ilmu yakni landasan ontologis epistemologis dan
aksiologis.[6]
Ø Landasan ontologis pengembangan
ilmu artinya titik tolak penalaran ilmu pengetahuan didasarkan atas sikap dan
pendirian filosofis yang dimiliki oleh seorang ilmuan. Landasan ini lebih
mengarah padaa ilmu-ilu empiris. Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu
untuk menjawab pertanyaan apa.[7]
Ø Landasan epistimologis
pengembangan ilmu artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan di dasarkan
atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran. Dalam landasanini adalah
menggunakan metode ilmiah
Ø Landasan aksiologis
pengembangan ilmu artinya para seorang ilmuan harus mengembangkan sikap-sikap
etis terutama dalam kaitanya pada nilai-nilai yang di yakini kebenaranya.
Dengan demikian suatu aktifitas yang di yakini kebenaranya. Dalam artian suatu
aktifitas ilmiah senantiasa dikaitkan dengan kepercayaan, ideology yang di anut
oleh masyarakat atau bangsa, tempat ilmu itu di kembangkan (Rizal
Mustansyir,dkk,2001)
c.
Metode
Filsafat
Kata metode
berasal dari kata Yunani methods berarti penelitian atau cara bertindak menurut
system aturan tertentu(Anton Bakker, 1984. Hlm 10)
Pembagian metode menurut para ahli[8]:
a.
Socrates
dan Plato ialah metode kritis yang merupakan hermenetika yang menjelaskan
keyakinan dan memperlihatkan pertentangan yang memiliki sifat analisis istilah dan
pendapat. Didapatkan dengan cara bertanya, membedakan, membersihkan.
Menyisihkan dan menolak sehingga dihasilkan sebuah hakikat. Socrates tidak
menyelidiki fakta-fakta akan tetapi ia menganalisi berbagai pendapat pendapat
dan aturan-aturan yang di kemukakan oleh orang. Karena menurut Socrates
pendapat orang dari kalangan manapun itu pasti berbeda. metode Socrates
biasanya disebut dengan metode dialeka karena dalam metode yang di kemukakan
oleh Socrates dialog dan wawancara mempunyai peran yang sangat penting.
b.
Ahmad
Tafsir metode filsafat terdiri dari metode sistematis, metode historis
dan kritis.
c.
Aristoteles,
Thomas Aquinas, filsafat abad pertengahan ialah metode skolastik
Bersifat sintetik deduktif, dengan titik tolak dari defenisi-defenisi
atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya dan di tarik
kesimpulan-kesimpulan. Metode skolastik dapat disebut dengan metode sintetis
deduktif.metode ini di pakai untuk menguraikan metode mengajar, seperti terjadi
di sekiolah di universitas.
Filsafat Thomas Aquinas dihubungkan erat sekali dengan teologika. Kalau
di cari metode filsafat Thomas Aquinas, pertama-tama harus di teliti cara
berfikir cara menguraikan dan membuktikan ajaranya.
d.
Rene
Descartes dan pengikutnya adalah metode geometris, metode ini melalui
hal-hal kompleks dicapai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana.
e.
Hobbes,
Locke, Berkeley, David Hume mengemukakan metode empiris. Metode ini di dapat
dari pengalaman. Karena menurutnya pengalamanlah yang benar.
f.
Plotinus,
Bergson mengemukakan metode intuitif di dapat dengan cara
menggunakan jalan
pembauran antara kesadaran dan proses. Intuisi dalam metode ini berperan sangat
penting karena intuisi sebagai hakikat suatu kenyataan yang mana untuk meninjau
dan menyimpulkan serta meninjau dengan sadar. Fungsi intuisis ialah untuk
mengenal hakikat pribadinya.
Prinsip metode Plotinus adalah harmoni,
maksudnya mengumpulkan banyak bahan dari
beberapa filusuf lain kemudian di banding-bandingkan dan di telaah kembali
sehingga memunculkan tafsiran yang baru. Dan di cari kebenaranya.
g.
Immanuel kant, Neo-Skolastik mengemukakan metode transendental
metode ini beririk tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan
analisis diselidiki syarat syarat melihat bagi pengertian sedemikian. Menueut
Immanuel Kant pemikiran telah mencapai arahnya yang pasti di dalam ilmu
pengetahuan alam. Seperti yang telah di susun oleh newton. Perlu kritis
terlebih dahulu menilai pengenalan.
h.
Husserl, eksistensialisme mengemukakan metode fenomenologis.
Metode ini dengan jalan beberapa pemotongan sistematis refleksi atas fenomin
dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat.
i.
Hegel, marx mengemukakan metode Dialektis. Metode dengan
jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis,
antithesis, sintesis dicapai dengan hakikat kenyataan. Menurut Hegel untuk
mehmahami kenyataan harus mengikuti gerakan pikiran atau konsep asal saja mulai
berfikir secara benar ia akan dibawah oleh dinamika pikiran itu sendiri. Dan
akan memahami seluruh perkembangan sejarahnya.
j.
Wittgenstein mengemukakan metode analitika bahasa.
Metode yang menggunakan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari yang
ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofi. Metode ini dapat dinilai
cukup netral sebab sama sekali tidak mengendalikan salah satu filsafat.
Keistimewaan dalam metode ini adalah semua kesimpulan yang di gunakan itu dalam
bahasa yang logis. (Sudarsono,1993,hlm, 96-102).
KESIMPULAN
Filsafat ilmu
adalah suatu pengetahuan atau epistemology yang mencoba menjelaskan rahasia
alam agar gejala alamiah tersebut bukan lagi merupakan sebuah misteri.
Objek kajian
filsafat ilmu ada 2 yaitu:
1.
Objek
material
2.
Objek
formal
methods berarti penelitian atau cara bertindak menurut
system aturan tertentu(Anton Bakker, 1984. Hlm 10). Adapun metode-metode tersebut
adalah: metode kritis, metode skolastik, metode sistematis, metode geometris,
metode empiris, metode intutif, metode transcendental, metode fenomenologis,
metode dialektis dan metode ahli bahasa
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal Prof.Dr. MA., Filsafat ilmu, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010).
Surajio,
Drs. filsafat ilmu & perkembanganya
di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara,2009),cet. IV.
Susanto,
A.Dr., Filsafat Ilmu, ( Jakarta: PT.
Bumi Aksara,2011) Cet.II.
Beni, Ahmad Saebani. Drs. M.Si, Filsafat Ilmu, ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009) cet.I.
Komara, Prof. Dr. M.Si, filsafat ilmu dan metodologi penelitian, (Bandung: PT.Refika
Aditama, 2011) cet.I.
[1] Drs. A.
Susanto, Filsafat Ilmu, ( Jakarta:
PT. Bumi Aksara,2011) Cet.II., hal. 48
[2] Ibid, hal.50
[3] Drs. Beni
Ahmad Saebani M.Si, Filsafat Ilmu (
Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009) cet.I., hal.34
[4] Prof.
Dr.Endang Komara,M.Si, filsafat ilmu dan
metodologi penelitian, (Bandung: PT.Refika Aditama, 2011) cet.I., hal.18
[5] Drs.
Surajio, filsafat ilmu &
perkembanganya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara,2009)., cet. IV., hal.48
[6]
Ibid,
hal. 48.
[7] Prof.Dr.Amsal
Bakhtiar,M.A, Filsafat ilmu,
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), hal. 219
[8] Drs.
Surajio, filsafat ilmu & perkembanganya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara,2009)., cet. IV., hal. 10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar