Sabtu, 19 September 2015

“FILSAFAT ILMU”
Makalah
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu tugas pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Dosen pembimbing:
Edwin Syarif. Dr.M.Ag.
Oleh:
Aulia Adibah (1113032100031)
Windi Wulandari (1113032100042)
Description: D:\My_Pictures\LogO\UIN BARU a.jpg
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
PENDAHULUAN
Filsafat merupakan cabang ilmu yang sangat penting. Karena ilmu berkembang tidak lepas dari filsafat. Salah satu cabang filsafat adalah filsafat ilmu yang mana filsafat ilmu bertujuan agar bias menganalisis ilmu dan bagaimana pengetahuan ilmiah itu di peroleh.dalam makalah ini akan kami paparkan apa pengertian filsafat ilmu? Objek kajian filsafat ilmu dan metode apa yang dapat di lakukan dalam menganalisis ilmu
a.       Pengertian filsafat ilmu.
Pengertian filsafat ilmu menurut para ahli[1]:
a.       Michael V. Berry
 Filsafat ilmu adalah ilmu yang mempelajari  tentang  logika intern,  teori-teori ilmiah dan hubungan antara percobaan. Yang bertujuan untuk menghasilkan suatu metode atau teori ilmiah.
b.      May Brodbeck
Filsafat ilmu adalah suatu analisis murni yang sesuai dengan falsafi, menjelasan mengenai landasan-landasan ilmu. Dengan cara menganalisis, menggali, mengkaji dan mendeskripsikanya. Sehingga ilmu itu dapat di manfaatkan secara benar.
c.       Lewis White Beck
Filsafat ilmu adalah ilmu yang mempertanyakan dan menilai metod-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan sehingga mampu memahami dan menetapkan akan arti pentingnya uaha ilmiah serta pengkajian ilmu pengetahuan.
d.      Jujun S Suriasumantri[2]
Filsafat ilmu adalah suatu pengetahuan atau epistemology yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut bukan lagi merupakan sebuah misteri. Pengetahuan tersebut dibagi menjadi 3 golongan:
1.      Pengetahuan tentang etika yaitu suatu hal yang baik atau buruk
2.      Pengetahuan estetika atau seni tentang suatu keindahan dan jelek
3.      Pengetahuan logika mengenai suatu hal yang benar atau yang salah
e.       Beerling
Filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut.
Jadi, dapat disimpulkan menurut pemaparan diatas, filsafat ilmu adalah filsafat yang mengkaji seluk beluk dan tata cara untuk memperoleh suatu pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan,metode dan pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan logis dan rasional.[3]
Fungsi filsafat ilmu[4]
1.      Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
2.      Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainya,
3.      Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
4.      Memberikan ajaran tentang moral dan etika
5.      Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan.
b.      Objek filsafat ilmu
Menurut Jujun S. Suriasumantri (1986) filsafat ilmu memiliki tiga objek yaitu: ontology,epistemology dan aksiologi.
Filsafat ilmu juga memiliki objek material dan objek formal[5]
1.      Objek material filsafat ilmu
Objek material yaitu objek yang menjadi sasaran penyelidikan oleh suatu ilmu tersebut.
Objek materil adalah ilmu pengetahuan itu sendiri yaitu, pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat di pertanggungjawabkan kebenaranya secara umum.
Sedangkan menurut Arif Rohman, Rukiyati dan L. Andriani (2011 : 22) objek material suatu bahan yang berupa benda, barang, keadaan atau hal yang dikaji.
2.      Objek formal
Objek formal dalam filsafat ilmu ini menitik beratkan pada fakta dan kebenaran yang mana kebenaran itu sudah di telaah objek materialnya.objek formal dalam filsafat ilmu adalah hakikat (esensi)ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian pada problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu itu sesungguhnya?, bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmu?apa fungsi ilmu pengetahuan bagi manusia?problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu yakni landasan ontologis epistemologis dan aksiologis.[6]
Ø  Landasan ontologis pengembangan ilmu artinya titik tolak penalaran ilmu pengetahuan didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki oleh seorang ilmuan. Landasan ini lebih mengarah padaa ilmu-ilu empiris. Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu untuk menjawab pertanyaan apa.[7]
Ø  Landasan epistimologis pengembangan ilmu artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan di dasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran. Dalam landasanini adalah menggunakan metode ilmiah
Ø  Landasan aksiologis pengembangan ilmu artinya para seorang ilmuan harus mengembangkan sikap-sikap etis terutama dalam kaitanya pada nilai-nilai yang di yakini kebenaranya. Dengan demikian suatu aktifitas yang di yakini kebenaranya. Dalam artian suatu aktifitas ilmiah senantiasa dikaitkan dengan kepercayaan, ideology yang di anut oleh masyarakat atau bangsa, tempat ilmu itu di kembangkan (Rizal Mustansyir,dkk,2001)
c.       Metode Filsafat
Kata metode berasal dari kata Yunani methods berarti penelitian atau cara bertindak menurut system aturan tertentu(Anton Bakker, 1984. Hlm 10)
Pembagian metode menurut para ahli[8]:
a.       Socrates dan Plato ialah metode kritis yang merupakan hermenetika yang menjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan yang memiliki sifat analisis istilah dan pendapat. Didapatkan dengan cara bertanya, membedakan, membersihkan. Menyisihkan dan menolak sehingga dihasilkan sebuah hakikat. Socrates tidak menyelidiki fakta-fakta akan tetapi ia menganalisi berbagai pendapat pendapat dan aturan-aturan yang di kemukakan oleh orang. Karena menurut Socrates pendapat orang dari kalangan manapun itu pasti berbeda. metode Socrates biasanya disebut dengan metode dialeka karena dalam metode yang di kemukakan oleh Socrates dialog dan wawancara mempunyai peran yang sangat penting.
b.      Ahmad Tafsir metode filsafat terdiri dari metode sistematis, metode historis dan kritis.
c.       Aristoteles, Thomas Aquinas, filsafat abad pertengahan ialah metode skolastik
Bersifat sintetik deduktif, dengan titik tolak dari defenisi-defenisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya dan di tarik kesimpulan-kesimpulan. Metode skolastik dapat disebut dengan metode sintetis deduktif.metode ini di pakai untuk menguraikan metode mengajar, seperti terjadi di sekiolah di universitas.
Filsafat Thomas Aquinas dihubungkan erat sekali dengan teologika. Kalau di cari metode filsafat Thomas Aquinas, pertama-tama harus di teliti cara berfikir cara menguraikan dan membuktikan ajaranya.
d.      Rene Descartes dan pengikutnya adalah metode geometris, metode ini melalui hal-hal kompleks dicapai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana.
e.       Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume mengemukakan metode empiris. Metode ini di dapat dari pengalaman. Karena menurutnya pengalamanlah yang benar.
f.       Plotinus, Bergson mengemukakan metode intuitif di dapat dengan cara menggunakan jalan pembauran antara kesadaran dan proses. Intuisi dalam metode ini berperan sangat penting karena intuisi sebagai hakikat suatu kenyataan yang mana untuk meninjau dan menyimpulkan serta meninjau dengan sadar. Fungsi intuisis ialah untuk mengenal hakikat pribadinya.
Prinsip metode Plotinus adalah harmoni, maksudnya  mengumpulkan banyak bahan dari beberapa filusuf lain kemudian di banding-bandingkan dan di telaah kembali sehingga memunculkan tafsiran yang baru. Dan di cari kebenaranya.
g.      Immanuel kant, Neo-Skolastik mengemukakan metode transendental metode ini beririk tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat syarat melihat bagi pengertian sedemikian. Menueut Immanuel Kant pemikiran telah mencapai arahnya yang pasti di dalam ilmu pengetahuan alam. Seperti yang telah di susun oleh newton. Perlu kritis terlebih dahulu menilai pengenalan.
h.      Husserl, eksistensialisme mengemukakan metode fenomenologis. Metode ini dengan jalan beberapa pemotongan sistematis refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat.
i.        Hegel, marx mengemukakan metode Dialektis. Metode dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antithesis, sintesis dicapai dengan hakikat kenyataan. Menurut Hegel untuk mehmahami kenyataan harus mengikuti gerakan pikiran atau konsep asal saja mulai berfikir secara benar ia akan dibawah oleh dinamika pikiran itu sendiri. Dan akan memahami seluruh perkembangan sejarahnya.
j.        Wittgenstein mengemukakan metode analitika bahasa. Metode yang menggunakan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari yang ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofi. Metode ini dapat dinilai cukup netral sebab sama sekali tidak mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaan dalam metode ini adalah semua kesimpulan yang di gunakan itu dalam bahasa yang logis. (Sudarsono,1993,hlm, 96-102).
KESIMPULAN
Filsafat ilmu adalah suatu pengetahuan atau epistemology yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut bukan lagi merupakan sebuah misteri.
Objek kajian filsafat ilmu ada 2 yaitu:
1.      Objek material
2.      Objek formal
methods berarti penelitian atau cara bertindak menurut system aturan tertentu(Anton Bakker, 1984. Hlm 10). Adapun metode-metode tersebut adalah: metode kritis, metode skolastik, metode sistematis, metode geometris, metode empiris, metode intutif, metode transcendental, metode fenomenologis, metode dialektis dan metode ahli bahasa








DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal Prof.Dr. MA., Filsafat ilmu, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010).
Surajio, Drs. filsafat ilmu & perkembanganya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara,2009),cet. IV.
Susanto, A.Dr., Filsafat Ilmu, ( Jakarta: PT. Bumi Aksara,2011) Cet.II.
Beni, Ahmad Saebani. Drs. M.Si, Filsafat Ilmu, ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009) cet.I.
Komara, Prof. Dr. M.Si, filsafat ilmu dan metodologi penelitian, (Bandung: PT.Refika Aditama, 2011) cet.I.







[1] Drs. A. Susanto, Filsafat Ilmu, ( Jakarta: PT. Bumi Aksara,2011) Cet.II., hal. 48
[2] Ibid, hal.50
[3] Drs. Beni Ahmad Saebani M.Si, Filsafat Ilmu ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009) cet.I., hal.34
[4] Prof. Dr.Endang Komara,M.Si, filsafat ilmu dan metodologi penelitian, (Bandung: PT.Refika Aditama, 2011) cet.I., hal.18
[5] Drs. Surajio, filsafat ilmu & perkembanganya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara,2009)., cet. IV., hal.48
[6] Ibid, hal. 48.
[7] Prof.Dr.Amsal Bakhtiar,M.A, Filsafat ilmu, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010),  hal. 219
[8] Drs. Surajio, filsafat ilmu & perkembanganya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara,2009)., cet. IV., hal. 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar